Beberapa hari yang lalu saya diminta untuk menulis artikel tentang KOMIKASIA 2005. Proyek 2M (makasih mas..) itu akan dimuat dalam Bulletin Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB). Saya sih oke-oke saja, sekalian untuk mengisi kolom berita di GaneshaTV online (http://ww.ganeshatv.itb.ac.id) yang kurang up to date. Berikut adalah artikel yang telah saya tulis, dan selanjutnya saya akan membahas mengapa KOMIKASIA 2005 saya sebut sebagai salah satu kasus Over Promised Under Delivery.
Menumbuhkan Wacana Kebangsaan Melalui KOMIKASIA 2005
Masuknya komik-komik impor, terlebih dengan masuknya manga, anime dan J-culture (istilah untuk kebudayaan pop Jepang) ke Indonesia menyebabkan komunitas pecandu komik makin terbentuk dan tersebar luas. Banyak dari mereka yang tergerak untuk meniru dan sebagian dari mereka menjadi komikus pemula. Dari para komikus pemula ini muncul studio-studio komik yang kemudian berkarya. Karya yang dihasilkan cukup bervariasi dan kelompok kelompok studio dan perorangan ini kemudian berkembang menjadi dua kubu yaitu independen/ komik indie dan komik industri. Sejak tahun 1994, kegiatan ngomik berkembang di beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Jogja, Solo, Surabaya, Malang dan di luar Jawa. Akan tetapi karya-karya ini belum dapat menarik perhatian masyarakat, karena dominasi komik Jepang saat ini masih tak tertandingi.
KOMIKASIA adalah sebuah kegiatan yang bertujuan untuk mensosialisasikan perkembangan komik Indonesia sebagai bagian dari perkembangan budaya komik di Asia.Tahun 2003 lalu, kegiatan ini dicetuskan sebagai hasil penelitian studi akademik desain komunikasi visual para akademisi dari DKV ITB yang mencermati gaya visual komik di Asia Tenggara dan budaya yang mempengaruhinya. Hasil dari kegiatan ini telah melahirkan suatu pemikiran tentang pencarian identitas visual komik Indonesia dan strategi pengembangan industri komik Indonesia di tengah-tengah masuknya gaya visual komik Jepang.
KOMIKASIA 2005 yang merupakan event dua tahunan ini diselenggarakan pada tanggal 7-10 Juli 2005. Kegiatan KOMIKASIA 2005 berupa eksibisi karya komik (tanggal 7-10 Juli), Seminar Strategi Visual dalam Komik dan Elaborasi dan formulasi kolaborasi gaya visual luar dan lokal, Komik "Made in Indonesia" (9/7), dan Workshop Komik(10/7) bersama akademisi dari DKV ITB dan praktisi komik Indonesia . Dalam event ini juga diselenggarakan kontes Ngadu Komik. Kontes ini adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh para pecinta komik di Indonesia. Hal ini terlihat dari banyaknya millist dan blog yang membahas tentang Ngadu Komik tersebut. Pada event ini juga terdapat malam penganugerahan KOMIKASIA AWARDS bagi insan komik nasional yang telah berkarya demi kemajuan dunia per-komik-an Indonesia. Dalam malam penganugerahan ini, komikus Dwi Koen melalui komik Panji Koming-nya (kartun editorial harian Kompas yang terbit setiap hari minggu) berhasil mengumpulkan award terbanyak yaitu 4 buah penghargaan. Penerbit Elex Media Komputindo juga mendapatkan award untuk kategori penerbit komik terbaik.
Menggugah Rasa Kebangsaan
KOMIKASIA 2005 ini juga merupakan rangkaian kegiatan dari ITB Science, Art, and Technology Fair (ISATF) 2005. Dengan adanya KOMIKASIA dalam agenda ISATF 2005 menunjukkan keberagaman elemen dari ITB yang selama ini hanya dicitrakan sebagai gudangnya teknokrat. Pada KOMIKASIA kali ini, panitia mengusung tema "Made In Indonesia, Sekarang Saatnya Komik Kita". Tema ini terasa sangat sensitif mengingat dalam keseharian kita sering dipertanyakan tentang rasa kebangsaan kita. Bahkan dengan hal yang mudah saja contohnya, pemakaian kata you yang biasanya dipakai oleh para pejabat atau pebisnis, terasa lebih enak digunakan dibandingkan dengan kata anda, kamu, atau kau.
Dalam hal pembangunan karakter kebangsaan ini, salah satunya melalui komik, dosen DKV FSRD ITB Iman Sujudi bersama beberapa rekannya merasa perlu untuk terbang ke Jepang dan mempelajari komik dari negeri matahari terbit tersebut. "Ternyata dalam mengungkap cerita, orang Jepang itu memang lebih pandai. Dari segi kreativitas dan ide sesungguhnya kita sama dengan Jepang, tetapi mengapa kita masih kalah? Mereka menang stamina dan mental bekerjanya lebih tinggi," papar Iman.
Orang Jepang, kata Iman, intens dalam bekerja, "Ketekunannya yang panjang dan kontinu serta dalam mampu melahirkan ratusan komik di atas meja para komikus dalam tempo tertentu," simpul Iman. Bagaimana komikus Indonesia? Iman tidak ingin membandingkan, namun ia membangun sebuah perumpamaan. "Orang Indonesia, jika membaca hanya mampu melahap tiga hingga lima halaman, tetapi orang Jepang bisa membaca hingga 30 halaman dalam sehari," jawab Iman.
Walau bagaimana pun bentuknya, perkembangan industri komik di Indonesia, terutama komik dalam negeri, merupakan suatu relitas dan potensi besar untuk setidaknya menyadarkan para generasi muda akan pentingnya sebuah karakter. Karena Komik dewasa ini telah menjadi sebuah genre tersendiri dari sebuah bentuk seni visual. Dalam konteks budaya komik dapat dijadikan sebuah refleksi dalam menilai karakter atau mentalitas bangsa. Pada perkembangannya saat ini komik telah mencapai wilayah eksplorasi yang sangat luas. Sebagai karya yang bersentuhan dengan ruang apresiasi masyarakat dan perkembangan budaya serta teknologi maka komik akan selalu rentan terhadap perubahan..Pencarian karakter (komik) tersebut dapat digali dari sudut pandang manapun sampai akhirnya menjadi sesuatu yang utuh, solid, dan mempunyai nilai kebangsaan, yaitu Indonesia.
Tomy Rusmansjah, dari berbagai sumber
Mengapa saya katakan Over Promised Under Delivery? Ada beberapa faktor yang menjadi cacatan saya. Suatu brand dapat dikatakan Over Promised Under Delivery karena suatu brand tidak dapat meleverage valuenya dengan baik. Bisa juga karena ekspektasi yang terlalu besar kepada pasar tanpa melihat kemampuan internal. Dalam kasus KOMIKASIA 2005 ini hal pertama yang mengusik saya adalah Naming yang terbilang muluk. Komikasia, jika anda baru pertama kali mendengar kata ini apa yang anda bayangkan kemudian? Ya, sebuah brand yang berkenaan dengan komik di regional asia, bukan? Namun pada kenyataannya jika KOMIKASIA 2005 tidak dapat merepresentasikan value yang anda bayangkan, apa yang anda lakukan kemudian? Mungkin anda akan merasa tertipu dan mencemoohnya . Pada kenyataannya, Komikasia memang demikian.
Kedua, menurut saya media coverage sebagai ujung tombak publisitas–dimana publisitaslah yang dapat melahirkan sebuah brand–tidak dimanfaatkan dengan baik oleh Komikasia. Hal ini terlihat dengan penggunaan media partnership masih sedikit, paling-paling hanya harian Warta Kota dan majalah game dan komik. Iklannya di baerbagai media massa sih bagus, dapat dijamin lah kerennya, namun kalau anda hadir dalam acara tersebut, anda pasti terkejut. Serangan melalui dunia maya memang sudah cukup bagus, terbukti dengan banyaknya millis dan blog yang memuat Komikasia. Namun ini tidak dimaintenance dengan strategi PR yang baik, masih banyak mereka yang bergerak di dunia maya terkesan lost dan lack of knowledge tentang Komikasia. Andai saja dengan media partnership yang lebih banyak, dan tidak hanya dari media yang membahas komik atau game saja, mungkin publisitas dapat diraih dengan lebih baik lagi. Seperti contohnya, beberapa penulis membuat artikel tentang Komikasia di harian nasional misalnya, hal ini dapat dilihat oleh pelanggan potensial sebagai sesuatu yang jujur dan objektif, mengingat artikel tersebut ditulis dari sudut pandang orang ketiga. Namun kenyataan yang terjadi, harian nasional seperti Kompas hanya memuat sedikit saja tentang Komikasia di lembaran edisi Jawa Baratnya, dan parahnya, Komikasia disitu hanya sebagai latar kegiatan dari tulisannya saja. Hal ini tidak dapat membuat brand Komikasia menjadi lebih baik.
Ketiga, dan ini yang paling parah, pelaksanaan acara yang tidak dapat mengimbangi nama besar Komikasia, dan mungkin DKV ITB. Menurut pengamatan saya, sebenarnya konsep acaranya bagus dan terkesan mercusuar, seperti kegiatan ITB pada umumnya. Namun dalam pelaksanaannya terkesan tidak direncanakan dengan matang. Memang para panitia kebanyakan mahasiswa, namun ini tidak dapat dijadikan alasan mengingat keadaan acara yang (seharusnya) wah dan besar tersebut ternyata kurang mendapat respon pasar. Pengunjung–yang besarnya tidak seperti yang diharapkan panitia–kerap dibingungkan oleh para panitia yang kurang terkoordinasi. Pada malam KOMIKASIA Award pun gedung Aula Barat yang dijadikan tempat untuk acara tersebut terkesan kosong, ditambah acaranya yang sedikit membosankan. Hanya panitia yang dapat mengangkat sedikit kehebohan Pengunjung lainnya? saya lebih baik tidak ikut menjawab.
Dari semua hal yang negatif diatas, brand Komikasia hanya dapat tertolong kehadirannya oleh peran komunitas, nama besar DKV ITB, dan dalih pendidikan. Komunitas komik yang terkesan indie yang masih mau membela brand Komikasia merupakan pasar yang harus dimaintenance dengan sebaik mungkin. Namun, ketika Komikasia harus mendapat saingan dari pekan komik lainnya dan para ‘pendukungnya’ hanya berdiam diri dan menganggap Komikasia masih ‘gagah’, disinilah akan terjadi erosi besar-besaran terhadap brand Komikasia tersebut. Mulai saat ini, para ‘pendukung’ Komikasia, termasuk saya, harus dapat menerapkan strategi yang efektif untuk meleverage brand Komikasia agar tidak terkesan hanya proyek mercusuar yang kosong, terlalu membual, dan sebagainya. Jangan sampai terjadi lagi Over Promised Under Delivery.
p.s.
Lalu pertanyaannya kenapa saya nulis yang bagus-bagus saja untuk KOMIKASIA? karena saya mungkin tergolong penulis publisitas… apalagi KOMIKASIA 2005 merupakan karya dari lingkungan saya sendiri!