Pindahan

March 22nd, 2006 by matasapi

WEBLOG MATASAPI UDAH PINDAH! Makasih buat yang baca selama ini. Weblog di Friendster ini ga bakal di hapus, biar menghargai sejarah…hehehehe JAS MERAH kata Soekarno ceunah. Weblog matasapi bisa kamu kunjungi di MATASAPI.BLOGSPOT.COM , feel free to blogwalking then blogtagging!!

Feels Free To Be Smart

July 18th, 2005 by matasapi

Yesterday I found an article which define the word ’smart’ in alphabetical way, S.M.A.R.T. Want to know any further? Here is the article…

Cita-cita yang SMART, Apa Itu?

Cita-cita yang jelas dan konkret membuat kita lebih bersemangat. Pernyataan mana yang membuat kita lebih bersemangat dalam berusaha: "jadi pengusaha yang punya mobil mercy" atau "jadi pengusaha telepon seluler yang kaya, punya 10 outlet, punya mobil mercy 2.000 cc, warna biru laut dengan velg racing ruji-ruji empat"? Nah, pernyataan yang terakhir boleh dibilang dirumuskan secara SMART. Menurut Yudistira S Aji Soedarsono, cita-cita yang SMART akan membuat kita lebih bersemangat. Nah, bagaimana cita-cita yang SMART itu? Berikut penjelasannya.

S, specific.

Dengan specific, otak akan mengasosiasikan dengan sesuatu yang rinci dan indah. Karena itu, cita-cita dirumuskan secara khusus, jelas, konkret, rinci, ‘berwarna’, sesuai dengan keunikan sang anak.

M, mega.

Dengan mega, otak mengasosiasikan hasil yan besar dan berlimpah ruah. CIta-cita itu harus besar, bisa berlingkup nasional atau internasional, menjadi nomor satu. "Kalau menjadi naga yang besar, yang hidup di sungai mekong, sama capeknya dengan menjadi cacing tanah yang kecil yang hidup di kebun pinggir sungai, mengapa harus menjadi cacing?" Ujar Aji.

A, achievable.

Dengan achievable, otak mengasosiasikan dengan hal yang telah nyata. Cita-cita harus yang dapat dicapai, bukan sesuatu hal yang mustahil (’gantungkan cita-citamu setinggi langit, dan yakinkan pada dunia bahwa engkau dapat meraihnya karena yang menggantung cita-cita tersebut adalah kamu sendiri,’ hehehe -matasapi). Misalnya, menjadi astronot yang mendarat di matahari (damn! just like her!-matasapi). Menjadi astronot bukan cita-cita yang mustahil, tapi mendarat di matahari masih mustahil.

R, recognizable.

Cita-cita harus dapat dikenali dan bisa mendapatkan pengakuan dari orang di sekitar kita. Dengan recognizable, otak mengasosiasikan bahwa kita mendapat pengakuan bahkan standing ovation (tepuk tangan sambil berdiri). Pengakuan ini penting untuk meningkatkan rasa percaya diri. "Jika pede sudah muncul, kita bisa mematok cita-cita yang lebih Mega lagi," tambah pelatih pengembangan sumber daya manusia ini.

T, time framed.

Waktu untuk mencapai cita-cita atau impian harus ada batasnya. Dengan time framed, otak mengasosiasikan bahwa kita akan mendapat hadiah yang banyak, besar, dan indah jika tepat waktu. "Ini penting untuk lebih memacu dan memicu semangat," kata Aji.

>poy. Republika, minggu 17 Juli 2005

Whatta nice article, though. Thanks to Republika, from ‘Kompas Minded’ reader. LOLS

KOMIKASIA 2005, A Case of Over Promised Under Delivery

July 13th, 2005 by matasapi

Beberapa hari yang lalu saya diminta untuk menulis artikel tentang KOMIKASIA 2005. Proyek 2M (makasih mas..) itu akan dimuat dalam Bulletin Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB). Saya sih oke-oke saja, sekalian untuk mengisi kolom berita di GaneshaTV online (http://ww.ganeshatv.itb.ac.id) yang kurang up to date. Berikut adalah artikel yang telah saya tulis, dan selanjutnya saya akan membahas mengapa KOMIKASIA 2005 saya sebut sebagai salah satu kasus Over Promised Under Delivery.

Menumbuhkan Wacana Kebangsaan Melalui KOMIKASIA 2005

Masuknya komik-komik impor, terlebih dengan masuknya manga, anime dan J-culture (istilah untuk kebudayaan pop Jepang) ke Indonesia menyebabkan komunitas pecandu komik makin terbentuk dan tersebar luas. Banyak dari mereka yang tergerak untuk meniru dan sebagian dari mereka menjadi komikus pemula. Dari para komikus pemula ini muncul studio-studio komik yang kemudian berkarya. Karya yang dihasilkan cukup bervariasi dan kelompok kelompok studio dan perorangan ini kemudian berkembang menjadi dua kubu yaitu independen/ komik indie dan komik industri. Sejak tahun 1994, kegiatan ngomik berkembang di beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Jogja, Solo, Surabaya, Malang dan di luar Jawa. Akan tetapi karya-karya ini belum dapat menarik perhatian masyarakat, karena dominasi komik Jepang saat ini masih tak tertandingi.

KOMIKASIA adalah sebuah kegiatan yang bertujuan untuk mensosialisasikan perkembangan komik Indonesia sebagai bagian dari perkembangan budaya komik di Asia.Tahun 2003 lalu, kegiatan ini dicetuskan sebagai hasil penelitian studi akademik desain komunikasi visual para akademisi dari DKV ITB yang mencermati gaya visual komik di Asia Tenggara dan budaya yang mempengaruhinya. Hasil dari kegiatan ini telah melahirkan suatu pemikiran tentang pencarian identitas visual komik Indonesia dan strategi pengembangan industri komik Indonesia di tengah-tengah masuknya gaya visual komik Jepang.

KOMIKASIA 2005 yang merupakan event dua tahunan ini diselenggarakan pada tanggal 7-10 Juli 2005. Kegiatan KOMIKASIA 2005 berupa eksibisi karya komik (tanggal 7-10 Juli), Seminar Strategi Visual dalam Komik dan Elaborasi dan formulasi kolaborasi gaya visual luar dan lokal, Komik "Made in Indonesia" (9/7), dan Workshop Komik(10/7) bersama akademisi dari DKV ITB dan praktisi komik Indonesia . Dalam event ini juga diselenggarakan kontes Ngadu Komik. Kontes ini adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh para pecinta komik di Indonesia. Hal ini terlihat dari banyaknya millist dan blog yang membahas tentang Ngadu Komik tersebut. Pada event ini juga terdapat malam penganugerahan KOMIKASIA AWARDS bagi insan komik nasional yang telah berkarya demi kemajuan dunia per-komik-an Indonesia. Dalam malam penganugerahan ini, komikus Dwi Koen melalui komik Panji Koming-nya (kartun editorial harian Kompas yang terbit setiap hari minggu) berhasil mengumpulkan award terbanyak yaitu 4 buah penghargaan. Penerbit Elex Media Komputindo juga mendapatkan award untuk kategori penerbit komik terbaik.

Menggugah Rasa Kebangsaan

KOMIKASIA 2005 ini juga merupakan rangkaian kegiatan dari ITB Science, Art, and Technology Fair (ISATF) 2005. Dengan adanya KOMIKASIA dalam agenda ISATF 2005 menunjukkan keberagaman elemen dari ITB yang selama ini hanya dicitrakan sebagai gudangnya teknokrat. Pada KOMIKASIA kali ini, panitia mengusung tema "Made In Indonesia, Sekarang Saatnya Komik Kita". Tema ini terasa sangat sensitif mengingat dalam keseharian kita sering dipertanyakan tentang rasa kebangsaan kita. Bahkan dengan hal yang mudah saja contohnya, pemakaian kata you yang biasanya dipakai oleh para pejabat atau pebisnis, terasa lebih enak digunakan dibandingkan dengan kata anda, kamu, atau kau.

Dalam hal pembangunan karakter kebangsaan ini, salah satunya melalui komik, dosen DKV FSRD ITB Iman Sujudi bersama beberapa rekannya merasa perlu untuk terbang ke Jepang dan mempelajari komik dari negeri matahari terbit tersebut. "Ternyata dalam mengungkap cerita, orang Jepang itu memang lebih pandai. Dari segi kreativitas dan ide sesungguhnya kita sama dengan Jepang, tetapi mengapa kita masih kalah? Mereka menang stamina dan mental bekerjanya lebih tinggi," papar Iman.

Orang Jepang, kata Iman, intens dalam bekerja, "Ketekunannya yang panjang dan kontinu serta dalam mampu melahirkan ratusan komik di atas meja para komikus dalam tempo tertentu," simpul Iman. Bagaimana komikus Indonesia? Iman tidak ingin membandingkan, namun ia membangun sebuah perumpamaan. "Orang Indonesia, jika membaca hanya mampu melahap tiga hingga lima halaman, tetapi orang Jepang bisa membaca hingga 30 halaman dalam sehari," jawab Iman.

Walau bagaimana pun bentuknya, perkembangan industri komik di Indonesia, terutama komik dalam negeri, merupakan suatu relitas dan potensi besar untuk setidaknya menyadarkan para generasi muda akan pentingnya sebuah karakter. Karena Komik dewasa ini telah menjadi sebuah genre tersendiri dari sebuah bentuk seni visual. Dalam konteks budaya komik dapat dijadikan sebuah refleksi dalam menilai karakter atau mentalitas bangsa. Pada perkembangannya saat ini komik telah mencapai wilayah eksplorasi yang sangat luas. Sebagai karya yang bersentuhan dengan ruang apresiasi masyarakat dan perkembangan budaya serta teknologi maka komik akan selalu rentan terhadap perubahan..Pencarian karakter (komik) tersebut dapat digali dari sudut pandang manapun sampai akhirnya menjadi sesuatu yang utuh, solid, dan mempunyai nilai kebangsaan, yaitu Indonesia.

Tomy Rusmansjah, dari berbagai sumber

Mengapa saya katakan Over Promised Under Delivery? Ada beberapa faktor yang menjadi cacatan saya. Suatu brand dapat dikatakan Over Promised Under Delivery karena suatu brand tidak dapat meleverage valuenya dengan baik. Bisa juga karena ekspektasi yang terlalu besar kepada pasar tanpa melihat kemampuan internal. Dalam kasus KOMIKASIA 2005 ini hal pertama yang mengusik saya adalah Naming yang terbilang muluk. Komikasia, jika anda baru pertama kali mendengar kata ini apa yang anda bayangkan kemudian? Ya, sebuah brand yang berkenaan dengan komik di regional asia, bukan? Namun pada kenyataannya jika KOMIKASIA 2005 tidak dapat merepresentasikan value yang anda bayangkan, apa yang anda lakukan kemudian? Mungkin anda akan merasa tertipu dan mencemoohnya . Pada kenyataannya, Komikasia memang demikian.

Kedua, menurut saya media coverage sebagai ujung tombak publisitas–dimana publisitaslah yang dapat melahirkan sebuah brand–tidak dimanfaatkan dengan baik oleh Komikasia. Hal ini terlihat dengan penggunaan media partnership masih sedikit, paling-paling hanya harian Warta Kota dan majalah game dan komik. Iklannya di baerbagai media massa sih bagus, dapat dijamin lah kerennya, namun kalau anda hadir dalam acara tersebut, anda pasti terkejut. Serangan melalui dunia maya memang sudah cukup bagus, terbukti dengan banyaknya millis dan blog yang memuat Komikasia. Namun ini tidak dimaintenance dengan strategi PR yang baik, masih banyak mereka yang bergerak di dunia maya terkesan lost dan lack of knowledge tentang Komikasia. Andai saja dengan media partnership yang lebih banyak, dan tidak hanya dari media yang membahas komik atau game saja, mungkin publisitas dapat diraih dengan lebih baik lagi. Seperti contohnya, beberapa penulis membuat artikel tentang Komikasia di harian nasional misalnya, hal ini dapat dilihat oleh pelanggan potensial sebagai sesuatu yang jujur dan objektif, mengingat artikel tersebut ditulis dari sudut pandang orang ketiga. Namun kenyataan yang terjadi, harian nasional seperti Kompas hanya memuat sedikit saja tentang Komikasia di lembaran edisi Jawa Baratnya, dan parahnya, Komikasia disitu hanya sebagai latar kegiatan dari tulisannya saja. Hal ini tidak dapat membuat brand Komikasia menjadi lebih baik.

Ketiga, dan ini yang paling parah, pelaksanaan acara yang tidak dapat mengimbangi nama besar Komikasia, dan mungkin DKV ITB. Menurut pengamatan saya, sebenarnya konsep acaranya bagus dan terkesan mercusuar, seperti kegiatan ITB pada umumnya. Namun dalam pelaksanaannya terkesan tidak direncanakan dengan matang. Memang para panitia kebanyakan mahasiswa, namun ini tidak dapat dijadikan alasan mengingat keadaan acara yang (seharusnya) wah dan besar tersebut ternyata kurang mendapat respon pasar. Pengunjung–yang besarnya tidak seperti yang diharapkan panitia–kerap dibingungkan oleh para panitia yang kurang terkoordinasi. Pada malam KOMIKASIA Award pun gedung Aula Barat yang dijadikan tempat untuk acara tersebut terkesan kosong, ditambah acaranya yang sedikit membosankan. Hanya panitia yang dapat mengangkat sedikit kehebohan Pengunjung lainnya? saya lebih baik tidak ikut menjawab.

Dari semua hal yang negatif diatas, brand Komikasia hanya dapat tertolong kehadirannya oleh peran komunitas, nama besar DKV ITB, dan dalih pendidikan. Komunitas komik yang terkesan indie yang masih mau membela brand Komikasia merupakan pasar yang harus dimaintenance dengan sebaik mungkin. Namun, ketika Komikasia harus mendapat saingan dari pekan komik lainnya dan para ‘pendukungnya’ hanya berdiam diri dan menganggap Komikasia masih ‘gagah’, disinilah akan terjadi erosi besar-besaran terhadap brand Komikasia tersebut. Mulai saat ini, para ‘pendukung’ Komikasia, termasuk saya, harus dapat menerapkan strategi yang efektif untuk meleverage brand Komikasia agar tidak terkesan hanya proyek mercusuar yang kosong, terlalu membual, dan sebagainya. Jangan sampai terjadi lagi Over Promised Under Delivery.

p.s.

Lalu pertanyaannya kenapa saya nulis yang bagus-bagus saja untuk KOMIKASIA? karena saya mungkin tergolong penulis publisitas… apalagi KOMIKASIA 2005 merupakan karya dari lingkungan saya sendiri!

Unpublished

July 8th, 2005 by matasapi

Umm.. well it’s been 2 years (?) since my passions on poetry burried.. but then, accidentally I found the unpublished one… yeah, a poem of my own maybe.. enjoy then!

—–

Kita sering bercita-cita tinggi–tapi ternyata bermental diri rendah–keinginan mengawang-awang namun–kemampuan alangkah payah–menjadi pribadi unggul–tapi malah banyak tidur mendengkur–dan berwajah tanpa dosa–apabila ia menyangkal

—–

what the meanig of this phrases? damn! do I look like a man who understand all that he’s ever written?

p.s.

today I’ve changed one namelist of my phonebook’s.. the name is "PALUNG"..yet I’ve change it from "SHINE". Yep, the name became deeper, though. Gosh I missed her, A LOT!!

Aja, Aja, Fighting!

June 20th, 2005 by matasapi

Beberapa hari yang lalu saya disibukkan dengan ‘perlombaan’ menonton serial drama TV Korea berjudul "Full House". Kompetitornya cuma satu, si Fitrah sang Loverboy. Sedikit diganggu oleh ‘perang’ MOHAA di kantor GaneshaTV–dimana saya selalu jadi anak bawang dalam perolehan skor–akhirnya saya keluar sebagai pemenang dalam perlombaan tersebut, Tomy 16 Fitrah 4 (karena cuma 16 episode).

Drama Korea dengan genre romantic comedy tersebut memang cukup menarik perhatian–setidaknya saya–, bahkan saya menemukan mailing list penggemarnya di yahoogroups! Walaupun saya tidak ikut-ikutan join, saya pikir realitas ini sudah cukup untuk saya mereview drama Korea tersebut. Pada review ini juga akan sisipkan beberapa catatan yang saya buat untuk drama (baca: sinetron) Indonesia. Review kali ini akan saya mulai dari sisi naskah dramanya.

Cerita yang dibawa  Full House terasa sangat sederhana dan mudah diterima oleh kita, bahkan seluruh dunia. Maklum, mengusung sekelumit tentang cinta, sebuah bahasa yang universal. Memang ini adalah salah satu cara yang save untuk membuat naskah drama; tulis saja tentang cinta, dan kamu akan diterima seluruh pemirsa! Namun, justru membuat naskah drama yang sederhana itulah yang susah, maksudnya, sudah pasti banyak yang menulis dan kita harus mencari lebih dalam untuk menemukan hal-hal yang belum pernah ditulis sebelumnya. Juga narasinya, karena sederhana, haruslah jujur dan tidak berlebihan. Bukankah cinta itu sebenarnya sederhana (jadi inget puisinya Sapardi Joko Darmono, Aku ingin mencintaimu dengan sederhana..) dan jujur?

Ya, serial drama TV ini terlihat jujur dan sederhana dalam pembawaan ceritanya, mengingatkan saya kepada serial drama TV lainnya, kali ini dari AS, "Friends". Kedua serial drama ini hanya menyampaikan realitas seadanya–dengan kacamata kedua negara tentunya–tapi justru inilah kekuatan dari kedua serial tersebut. Disaat kita tertekan dengan kehidupan sehari-hari, secara tak sadar, kita pun mulai kehilangan hal-hal yang sederhana. Nah, dengan adanya hiburan seperti serial drama tersebut membuat waktu istirahat kita lebih enjoy dan mempunyai makna tersendiri, seperti baterai yang sedang di-charge (meminjam istilah dari teman saya, gosh I miss that girl..).

Full House melakukan itu, dengan komunikasi yang efektif, serial ini mampu membangun gairah akan kesederhanaan (ini subjektif), sama seperti Friends dan serial yang sederhana lainnya. Hal ini tampaknya patut di contoh oleh sinetron kita yang makin lama makin membodohi pemirsanya. Saya juga pernah sedikit mengikuti Meteor Garden, serial drama dari Taiwan, sama saja seperti sinetron, terlalu banyak kesan yang ingin dimasukkan dalam pikiran pemirsa, yah walau memang saya lihat cukup banyak ‘penganutnya’. Namun menurut saya jalan ceritanya jauh dari sederhana, berkelok-kelok, seperti telenovela dan film bollywood, yang menjadi parameter pembawaan cerita sinetron-sinetron kita.

Belum lagi tentang tata pengambilan gambar, dalam hal ini serial-serial asing lebih enak untuk dilihat secara visual. Saya sering menemukan  pengambilan gambar sinetron kita tidak bermotif dan tidak penting malah justru berlebihan. Satu hal lagi yang penting, efek suara yang begitu besar malah menurut saya mematikan karakter yang dicoba untuk dibangun oleh sang aktor. Ini menjadi kerugian bagi aktor sendiri, karena mereka jadi tidak terlihat upayanya dalam membangun sebuah karakter. Seperti contohnya, jika dalam keadaan tegang, efek suara yang berlebihan membuat irama jantung pemirsa pun menjadi tegang tanpa harus terlebih dahulu memperhatikan akting sang aktor.

Dari segi pemasaran, menurut saya, Full House (seharusnya) cukup berhasil menancapkan posisi di benak pemirsa TV di Indonesia. Dengan kelebihan bahwa serial ini dari ‘luar negeri’, penempatan waktu yang tepat, dan cerita yang fokus, Full House akan terlihat ‘berbeda’ diantara kerumunan program drama a.k.a. sinetron di televisi kita. Fokus, ini menjadi kata kunci dari saya. Serial Full House sangat fokus kepada kesederhanaan cerita dan pemerannya, dan hal ini ditunjang dengan sedikitnya pemeran pembantu. Pemirsa dipersilakan untuk mengenal karakter sebebas-bebasnya, karena dengan pemeran yang sedikit, justru kesempatan pemeran untuk tampil lebih banyak. Lalu, lagu tema yang mengiringinya, walau terkesan cukup membosankan, justru inilah yang dicoba dibangun asosiasinya oleh si pembuat serial. Tidak seperti sinetron kita yang membuat serial dengan mengambil lagu tema yang sudah terkenal, apalagi lagu tema tersebut tidak dicoba dibangun karakternya kedalam lagu latar. Ada beberapa sinetron yang menurut saya cukup berhasil membangun asosiasi lagu temanya, sebut saja Si Doel Anak Sekolahan dan Cerita Cinta (yang dimainkan oleh Tengku Firmansyah, Cindy Fatikasari, Marcella Zaliyanti, dan Surya Saputra).

Dengan beberapa karakter dan diffrensiasi yang dicoba dibangun oleh serial tersebut, brand Full House telah mendapatkan semacam ‘pembelaan’ dari pelangannya yaitu pemirsanya sendiri, seperti millis di yahoogroups diatas. Serial ini pun cukup memberikan benefit yang tidak sedikit. Mengacu kepada kesederhanaan dan kejujuran ceritanya, kita dapat ‘menemukan’ kambalai apa yang telah ‘hilang’ atau ‘terabaikan’ dalam hidup kita. Hal inilah yang tampaknya mesti dicontoh oleh para pesinetron kita. Tanpa disadari, kita telah kehilangan hak untuk memilih sinetron yang variatif. Dengan beragam sinetron yang ditampilkan oleh televisi kita, yang kebanyakan tidak memberikan alternatif tontonan drama. Kekerasan, misteri alam gaib, cinta remaja yang ‘berlebihan’, nuansa religius yang hanya kedok saja, telah membuat kita tertutup dari sebuah kesederhaanan dan kejujuran. Bukankah realitas kehidupan itulah yang dicoba dibangun oleh drama? Dengan materi sinetron kita yang itu-itu saja, maka makin jauhlah kita dari kesederhanaan yang kita coba untuk cari. Mana ada sih yang mau hidup sulit? Bayangkan, jika waktu istirahat kita diisi oleh tontonan seperti itu, bukannya hiburan yang kita dapat, malah menimbulkan rasa kesal berlebihan, takut, was-was, dan berpikir secara tidak sadar untuk meniru. Ada ungkapan yang menyatakan Film (termasuk serial) dipengaruhi oleh kebudayaan manusia, dan pada akhirnya pun dapat mengubah kebudayaan manusia (Garin atau Pak Primadi meureun?). Jadi jika nantinya sinetron kita yang kualitasnya seperti itu dapat merubah kebudayaan bangsa ini, dapat dibayangkan kan seperti apa nantinya bangsa ini?

Justru pada sinetron seperti Si Doel Anak Sekolahan-lah saya dapat menemukan kejujuran dan kesederhanaan, sesuatu yang mungkin telah lepas atau menjadi titik hilang di mata kita. Jika ingin membandingkan, maka saya akan memberikan poin yang lebih pada Si Doel daripada Full House. Selain sentimen bangsa tentunya (dengan kata lain, seperti makanan, lebih cocok dilidah orang Indonesia), dari segi asosiasi lagu tema Si Doel lebih kreatif. Namun terlepas dari kelemahan teknis, Si Doel mampu memberikan warna yang sangat kuat di dunia pesinetronan Indonesia. Satu hal lagi, saya salut kepada kedua serial tersebut, baik Full House maupun Si Doel, menyisipkan kebudayaan bangsa masing-masing (Full House dengan nyanyian dan tata cara salam kepada yang lebih tua dan Si Doel yang memang berlatar kebudayaan Betawi), dan pemunculannya sangat kuat. Telah lelah kita melihat adopsi gaya Bollywood dan telenovela dari sinetron kita, dan mari kita memberikan jalan kepada gaya adopsi dari Jorea, Jepang maupun Amerika untuk akhirnya kita olah dan membentuk ciri wajah pesinetronan kita sendiri. Salut buat Si Doel, Bajaj Bajuri dan sinetron lainnya yang berani out of the crowd dan mampu memberikan value yang cukup berharga bagi pemirsanya, untuk kemudian melanjutkan hidup di negeri krisis ini setelah cukup beristirahat.

Saya bukan seorang potato couch, juga bukan pendukung dunia pesinetronan Indonesia, namun yang pasti saya akan mencantumkan nama saya dalam daftar orang yang berusaha untuk membuat wajah pertelevisian Indonesia menjadi lebih baik. Hal ini karena televisi adalah puncak dari media komunikasi massa, dan saat ini masih menjadi media terbaik untuk menyampaikan pesan kepada bangsa ini. Semoga TV tidak dihina sebagai ‘kotak bodoh’ lagi, seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Ayo maju dunia pertelevisian Indonesia, seperti Han Ji Eun (tokoh dalam serial Full House) bilang: Aja, Aja, Fighting!

Whew!! I’m In Pitch!

June 19th, 2005 by matasapi

Asulah aing! that man put me in a pitch.. yeah, "to collect more ideas," he said. Whew, this project make me uncertain. At first, he told me that I was the one who get hired for this company logo project, an then.. I found my self in a pitching! yeah, pitching! shit! he hires someone else.. acctually a pro design firm! whatta fookin jerk!! Gosh… I really need that money…

just my thought

June 18th, 2005 by matasapi

just my thought, a "Full House" (korean TV drama) is more honest than our sinetron’s, ain’t?